7 Ajaran dan Etika Menyambut Gerhana


Gerhana bukanlah sesuatu yang baru. Sudah pernah terjadi semenjak zaman dahulu. Pada zaman Nabi pun pernah terjadi peristiwa ini. Nah, bagaimana menyikapi terjadinya peristiwa ini menurut ajaran Islam? Mari kita simak penuturan seorang sahabat yang bernama Mughirah. “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw. di hari kematian Ibrahim (putra Nabi). Maka banyak orang berkata: “Terjadi gerhana karena kematian Ibrahim.” Maka Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang dan juga bukan karena kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihat keduanya (terjadi gerhana), berdoalah kepada Allah dan shalatlah hingga terang kembali.” (HR. Bukhari dan Muslim/Bulughul Maram). Dalam riwayat lain Nabi memerintahkan agar segera ke masjid, berdzikir, memerdekakan budak, sedekah, beristighfar dan bertakbir.

Dari hadits di atas banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Pertama, gerhana adalah terjadi semata-mata atas kekuasaan Allah. Bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Apalagi karena campur tangan atau fikiran rekayasa manusia. Oleh karena itu, peristiwa ini hendaknya menambah keimanan kita akan kebesaran dan keagungan Allah. Sekaligus menyadari kelemahan dan ketidakberdayaan kita di hadapan kekuasaan Allah. Maka, tak ada yang pantas kita sombongkan sama sekali.

Kedua, kita dilarang memiliki keyakinan-keyakinan yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Keimanan dan kepercayaan kita semua hendaknya bersumber kepada dalil yang shahih, bukan bersumber dari dongeng atau cerita-cerita khayalan palsu.

Ketiga, matahari dan bulan adalah ayat (bukti) dari sekian ayat-ayat Allah. Maka seseorang hendaknya tidak menyembah bulan atau matahari, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya.

Banyak manusia yang salah. Ketika terpesona dengan matahari, matahari yang disembah. Terpesona dengan bulan, bulan yang disembah. Terpesona dengan bintang, bintang yang disembah. Terpesona dengan kerbau, kerbau yang disembah. Terpesona dengan tokoh tertentu, kuburannya disembah. Seharusnya, bukan itu semua yang disembah. Tetapi Allah sebagai Pencipta semua itu yang harus disermbah. Termasuk kini yang banyak menyembah harta, tahta, wanita, figur tertentu dll. Menunukkan betapa manusia ini terkadang amat bodoh.

Maka peristiwa gerhana semoga bisa menyadarkan kita agar kita semata-mata menyembah kepada-Nya saja. “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Fusshilat [41]: 37)

Keempat, kita harus segera meluruskan manakala muncul kepercayaan-kepercayaan yang salah, apalagi bila itu menjurus kepada kesyirikan.

Kelima, pemimpin harus memberikan penjelasan dan alternatif yang benar ketika muncul suatu kesalahan.
Keenam, bukti nyata kebenaran dan kejujuran Nabi Muhammad Saw.. Sama sekali Nabi tidak mengaitkan terjadinya gerhana dengan musibah yang menimpah kepada Beliau, bahkan Nabi membersihkan adanya sebagian orang yang mengaitkannya. Inilah bukti nyata bahwa Nabi Muhammad adalah benar-benar utusan Allah. Nabi tak pernah berfikiran pragmatisme dengan alasan Dakwah. Nabi benar-benar berpegang kepada idealisme. Wamaa yanthiqu ‘ani hawa in hua illa wahyuui yuuha. (An-Najm [53]: 3-4). Bandingkan dengan orang-orang sekarang yang selalu ingin mengaitkan sesuatu peristiwa untuk membesarkan dirinya.

Ketujuh, disyari’akan shalat gerhana. Nabi bersabda dalam hadits di atas: “ … Maka apabila kalian melihat keduanya (terjadi gerhana), berdoalah kepada Allah, dan shalatlah hingga terang kembali.” Karena itu para ulama sepakat hukum shalat gerhana baik matahari maupun bulan adalah sunnah muakkadah. Seperti halnya shalat idul fitri atau adha. Diutamakan agar ditunaikan secara berjamaah di masjid. Tanpa adzan dan iqamah. Diumumkan dengan dengan ucapan: “Ash-shalatu jami’ah”.
Berdasarkan hadits yang paling shahih, shalat gerhana itu dua rakaat dan pada tiap rakaat ada dua kali berdiri untuk membaca (Alfatihah dan Surat) dan dua kali ruku’. Imam membaca bacaan (Al-Fatihah dan surat) dengan suara keras (jahri) baik pada shalat gerhana bulan maupun matahari. Lalu, setelah shalat dilanjutkan dengan penyampaian khutbah yang mengingatkan akan ibrah dan pelajaran yang harus diambil dari peristiwa penting tersebut dan nasehat lainnya yang berguna.

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, maka beliau shalat. Beliau berdiri lama sekitar lamanya bacaan surat al-Baqarah, lalu ruku’ dengan ruku’ yang lama, lalu bangkit dan berdiri lama namun lebih pendek dibandingkan berdiri yang pertama. Kemudian ruku’ lama namun lebih pendek dibanding ruku’ yang pertama, lalu sujud. Kemudian berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku’ lama namun lebih pendek dibandingkan ruku’ yang pertama, kemudian bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku’ lama namun lebih pendek dibanding ruku’ yang pertama, kemudian beliau mengangkat kepala lalu sujud. Kemudian, selesailah sedang matahari telah terang. Lalu, beliau menyampaikan khutbah kepada orang-orang (yang hadir saat itu)”. (Hr. Bukahri dan Muslim, dengan lafadz menurut Bukhari) Dalam suatu riwayat menurut Muslim: “Beliau shalat ketika terjadi gerhana matahari delapan ruku’ dalam empat sujud.” (Bulughul Maram)

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anha bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengeraskan bacaannya dalam shalat gerhana, beliau shalat empat kali ruku’ dalam dua rakaat dan empat kali sujud. (Hr. Bukhari dan Muslim, dan lafadznya menurut Muslim. Dalam riwayat Muslim yang lain: Lalu beliau menyuruh seorang penyeru untuk menyerukan: Ash-Shalaatu jaami’ah (Datanglah untuk sholat berjama’ah). (Bulughul Maram)

Kedelapan, keutamaan shalat, dzikir, istigfar, berdoa, sedekah dan pergi ke masjid. Inilah yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita. Dan ini sesungguhnya adalah solusi. Inilah ajaran, adab dan etika Islam. Inilah yang menjadi rahasia kejayaan ummat Islam dan yang mewarnainya. Kejayaan ummat ini tidak berangkat dari tehnologi dan bangkitnya ekonomi. Tapi bangkitnya ummat ini dari keimanan yang kuat, aqidah yang bersih, akhlak yang mulia, dzikir yang tiada henti, istighfar, shalat, infaq sedekah dan memakmurkan masjid. Wallahu a’lam wa hua waliyuttaufiq.

Penulis : KH. Muhammad Syamlan,Lc adalah Pimpinan Ma’had Rabbani Bengkulu

source:https://www.facebook.com/hmsyamlan/posts/969597479796794

Tidak ada komentar:

Posting Komentar